The 7 Laws of Happiness

Memasuki tahun baru berbagai media menampilkan ramalan-ramalan tahun 2009. Mulai dari ramalan yang baik sampai ramalan yang buruk. Namun mengenai krisis global yang saat ini sedang dihadapi dunia mungkin tidak perlu ramalan lagi. Dibalik semua ramalan itu, terkandung harapan manusia untuk mencapai kebahagiaan. Bisakah kita mencapai kebahagiaan menjalani tahun baru ini?
Ada baiknya jika kita membaca buku The 7 Laws of Happiness. Buku yang ditulis oleh Arvan Pradiansyah ini merumuskan tujuh “makanan bergizi” yang harus terus-menerus diasup oleh pikiran manusia.
Tiga “makanan” berkaitan dengan diri kita sendiri, tiga “makanan” berkaitan dengan hubungan kita dengan orang lain serta satu “makanan” lagi berkaitan dengan Tuhan. Tiga makanan pertama adalah patience atau kesabaran, gratefulness atau rasa syukur, dan simplicity atau sederhana. Tiga makanan kedua adalah love atau kasih, giving atau memberi, dan forgiving atau memaafkan. Satu makanan terakhir adalah surrender atau pasrah. Semuanya memengaruhi pikiran.

Diskusi Buku 'The 7 Laws of Happiness'

“Konsep kebahagiaan fokusnya di pikiran. Kita memasukkan makanan-makanan yang salah ke pikiran kita. Makanan biasa gampang kita lihat kita bisa lebih hati-hati memasukkan yang pantas ke mulut. Tapi kalau pikiran, kita sulit memilah-milahnya,” ujar Arvan dalam talkshow mengenai bukunya yang berlangsung di Function Room Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta Timur, hari Sabtu 3 Januari 2009.

Kebahagiaan berada dalam pikiran kita. Oleh karena itu, kebahagiaan dapat dicapai melalui suatu latihan. Arvan merumuskantujuh rahasia hidup bahagia dalam bukunya.

Rahasia yang pertama adalah sabar. Menurut Arvan, definisi sabar tidak sesempit pengertiannya yang selama ini dominan dalam masyarakat, yaitu mengurut dada sehingga menuntun kepada pemahaman bahwa sabar identik dengan penderitaan.

“Mengurut dada menunjukkan bahwa Anda tiada ikhlas, bahwa Anda terpaksa. Padahal, sabar sama sekali berbeda dengan terpaksa. Sabar adalah melakukan sesuatu dengan senang hati,” tulis Arvan.

Kesabaran, bagi Arvan, tak dapat dilepaskan dari peran Tuhan. Untuk menjadi sabar, manusia harus mendekatkan diri kepada Tuhan dan memohon kekuatan dari-Nya. Kesabaran berbanding lurus dengan kedekatan kita kepada Tuhan.

Rahasia yang lain adalah bersyukur.

“Sama ketika senang juga harus bisa sabar. Bersyukur juga harus bisa dalam keadaan susah,” ujar Arvan dalam diskusi bukunya.

Menurut Arvan, bersyukur adalah proses berhenti sebentar di setiap momen dan menikmati momen tersebut. Bersyukur berpusat pada kondisi internal Anda. Oleh karena itu, pikirkanlah semua yang telah dimiliki, bukan yang diinginkan


Bedah buku yang berlangsung mulai pukul 14.00 WIB ini diikuti oleh sekitar 100 orang peserta. Para peserta puas mendengarkan penjelasan Arvan Pradiansyah, dan juga bisa langsung meminta tandatangan Penulis setelah acara berlangsung.

Beberapa peserta ikut dalam interaksi bersama Arvan

Beberapa peserta ikut dalam interaksi bersama Arvan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: